Warmest regards

April 14, 2014

The Power of Kepepet

source: google

The Power of Kepepet and Deadline are always my favourite adrenaline trigger.

Yeah.
Untuk deadliner seperti aku, kekuatan yang satu ini betul-betul dahsyat.
Paper dalam 1-2 malam? Review materi setengah semester dalam satu malam? Bikin presentasi H-4 jam? Libassss. Seru!

Hehehe.
Entah, apakah hidup tetap seru kalau bukan tipe deadliner?
Atau saking parahnya dirimu aja, Chaaaa~~

Kalau ini buruk ya jangan dicontoh ya, semuanya.

April 11, 2014

Aroma Parfummu

Entah angin atau rasa rinduku, yang tetiba menghembuskan lembut aroma parfummu.

March 11, 2014

Tempat Terakhir

**)Meskipun aku di surga
Mungkin aku tak bahagia
Bahagiaku tak sempurna
Bila itu tanpamu


Lama sudah kau menemani
Langkah kaki di sepanjang
Perjalanan hidup penuh cerita

Kau adalah bagian hidupku
Dan akupun menjadi bagian dalam hidupmu

Yang tak terpisah

Kau bagaikan angin
Di bawah sayapku
Sendiri aku tak bisa seimbang

Apa jadinya bila kau tak di sisi

**

Aku ingin kau menjadi
Bidadariku di sana
Tempat terakhir melabuhkan
Hidup di keabadian

Bila nanti aku kehilangan
Mungkin itu hanya sesaat
Karena ku yakin kita kan bertemu lagi

Tanpamu, ku tak akan sama...

Padi - Tempat Terakhir.

February 16, 2014

Joko Widodo: Memimpin dengan Hati, Tanpa Kepentingan

Najwa Shihab: Pak Jokowi, satu pertanyaan terakhir, apa kunci kesuksesan bagi seorang Jokowi agar dapat memimpin dengan hati?
Jokowi: Jangan punya kepentingan.

Simpel, tapi dalem, bro...
Pertanyaan tersebut jadi penutup perbincangan Najwa Shihab bersama gubernur Jakarta, Joko Widodo, atau yang biasa disapa Jokowi, malam itu. Perbincangan mereka dibungkus dalam sebuah talkshow berdurasi 60 menit berjudul "Mata Najwa" yang disiarkan di salah satu stasiun TV swasta.

Sepanjang perbincangan, pemirsa disuguhkan oleh kerendahhatian, kesederhanaan, dan tentu kecemerlangan pemikiran seorang Jokowi. Nada bicaranya tidak pernah tinggi, memproyeksikan cerdas pemikirannya tanpa perlu dipamerkan. Joko Widodo menjadi sebuah fenomena dimana seorang pemimpin muda (52 tahun) muncul dari kota kecil Surakarta, membawa niat mulia memimpin warganya dengan hati. Tak pelak pertanyaan tersebut lantas dilontarkan Najwa selaku pembawa acara sebagai pertanyaan penutup.

Jawaban Jokowi pun sederhana, namun penuh makna, "jangan punya kepentingan". Ya, selama ini pun kiranya Jokowi telah melakukan omongannya sendiri. Beliau memimpin Surakarta, kemudian provinsi D.K.I. Jakarta, tanpa memihak satu dua kepentingan. Sebagai wakil rakyat, kepentingan yang diusungnya pun hanya dan selalu satu: Rakyat. Tak heran survey-survey yang ada menyebutkan Jokowi memiliki elektabilitas tertinggi dibanding kandidat calon presiden lainnya dari berbagai partai. Bahkan ketika Beliau sendiri tidak, atau mungkin belum, mencanangkan sebagai salah satu kandidat calon presiden Indonesia periode 2014-2019.

Joko Widodo

Omong-omong soal partai, Jokowi adalah kader Partai Demokrasi Insonesia Perjuangan (PDIP). Namun kepentingan partainya tak pernah terbawa hingga dalam kantor maupun rumah dinasnya. Bahkan mungkin banyak rakyat yang tidak tahu partai pengusung Jokowi. Cara memimpin Jokowi lah yang membesarkan namanya. Dari situ, popularitasnya meroket tajam, alhasil partai pun kecipratan.

Jokowi terus menginspirasi banyak tokoh baru, yang kemudian dikenal memiliki kepiawaian yang baik dalam memimpin. Sebut saja Ridwan Kamil serta Tri Rismaharini. Walikota Bandung dan Surabaya ini pun namanya melambung setelah dinilai berhasil membawa daerahnya menjadi lebih baik. Sama seperti Jokowi, popularitas mereka berangkat dari kursi walikota, dan semoga terus berlanjut, terus bersih, dan terus berhasil.

Pak Jokowi, mungkin Bapak tidak akan membaca tulisan ini. Tapi semoga Bapak selalu sehat, cukup, dan bahagia, lahir dan batin. Rakyat bangga memiliki pemimpin seperti Bapak. Teruslah memimpin dengan hati dan tanpa kepentingan.

#2014TahunPemilu
#JanganGolput

January 29, 2014

Suka-Suka jadi Mahasiswi UI

“Tuiiiit… Tuiiiit…” alarm pagiku bunyi tepat pukul 05.30. Bangunlah aku.

Pagi ini rasanya badan fresh setelah latihan Marching Band semalam hingga pukul 21.00, dan nggak lupa pakai koyok favorit untuk pengantar tidur. Hahaha. Macam simbah-simbah. Entah, UKM yang satu ini sangat makan tenaga dan waktu, tapi akunya ketagihan ^^v

Setelah sholat subuh, ritual pagi pun dilaksanakan. Yak, bingung pilih baju untuk kuliah. Hampir setiap pagi, 10-15 menitku terpakai untuk ngubek-ubek lemari pakaian, pilih baju yang pas. Meskipun akhirnya juga pakai baju itu-ituuuu lagi.

Setelah yakin dengan baju yang kupakai, pukul 06.30 aku turun dari kamar asramaku di gedung F1 lantai 3 menuju gedung sebelah, gedung E1. Turunnya pakai tangga yaa. Seperti biasa, aku menuju kamar Saras (@SarasFauzia) temanku dari Solo. Kami sama-sama di FISIP, tapi Saras ambil departemen Antropologi Sosial.

“Saraaas”, panggilku di depan pintu kamarnya.
“Masuk Chak”, jawabnya seperti biasa.
Seperti biasa pula, Saras sudah dalam keadaan rapi dan sudah mandi. Aku langsung ambil handuk dan alat mandi yang sengaja kutinggal di kamarnya, lalu cuss ke kamar mandi. Iya, hampir setiap hari aku mandi di kamar mandi lantai asrama Saras. Karena apa? Karena kamar mandi di lantai 3 itu airnya susah :’( (tapi kata seorang teman sih udah diperbaiki selama liburan semester ganjil ini, alhamdulillah).

Pukul 07.00 kami siap dan langsung menuju kantin asrama untuk sarapan. Di sana aku menyapa Mory dan Tari (@moryw_ & @bbebestt), dua cewek Padang yang selalu bareng ke sana kemari. Selesai ambil makanan, aku dan Saras ke salah satu meja kantin.
“Heh sipiiiiiit, mau kuliah masih merem aja,” panggil Dika dan Tito (@dikaaldi & -), dua cowok Medan yang selalu ngatain aku sipit -,-

Asrama memang bikin aku kenal banyak orang dari berbagai daerah dan fakultas. Seneng deh.

Selesai sarapan, aku dan Saras langsung cuss ke halte Bis Kuning (Bikun) yang ada tepat di sebelah gerbang asrama. Terlihat banyak anak yang sudah menunggu bikun. Ada beberapa anak Teknik dengan membawa ‘tabung keren’ yang entah isinya apa, anak Mipa yang entah kenapa tampilannya selalu sopan muslimah ahli sorga, anak FIB yang masih pakai nametag a la anak ospek, dan dari fakultas-fakultas lainnya juga.

Setelah menunggu sekitar 3 menit, salah satu bikun yang diparkir di depan asrama pun mulai berjalan.
“Biru apa Merah, Ras?” tanyaku pada Saras.
“Merah, piye?” aku pun meng-iya-kannya.
Bikun dibagi menjadi 2 jalur: Merah dan Biru. Sebenarnya kalau dari asrama ke FISIP lebih enak naik bikun jalur biru, kalau naik yang merah kami harus berjalan sedikit dari stasiun UI ke FISIP. Tapi jalan juga enak sih, seger karena kanan-kiri jalan itu penuh pohon-pohon rindang.

Sesampainya di FISIP, seperti biasa, aku dan Saras pisah menuju kelas masing-masing. Di jalan menuju kelas, aku bertemu Facil (@fahnissa), seorang mahasiswi Kriminologi dan orang Bogor asli hehe. Kebetulan pagi itu kami sekelas, berjalanlah kami ke kelas.

Pukul 10.30 perkuliahan selesai. Aku langsung menuju depan koperasi mahasiswa (Kopma) yang telah ramai dengan anak-anak yang memang setiap hari nongkrong di situ. Anak-anak berbagai departemen di FISIP cukup banyak yang ngumpul di sini. Mulai dari anak ‘ADM’—sebutan untuk anak-anak departemen administrasi--, anak Kriminologi, sampai yang paling banyak, anak Komunikasi pastinya.

Di sana aku menyapa beberapa anak: Tania (@taniannisah) dari Malang, Erlangga (@erlanggasptr15) dari Pontianak, Andri (@ichi_kaze) dari Jambi, Gya (@gkancana) dari Lombok, Peri (@Peri_Qudus) dari Palembang, Sifa (@sipaulll) dari Bekasi, Febi (@febriani_ry) dari Depok, dan banyak anak dari berbagai daerah pastinya. Ini nih senangnya di UI, Sabang hingga Merauke ada semua!

“Aku mau ke perpusat nih, cari bahan PPI” kata Tania. Perpusat UI memang tempat yang pas banget untuk tidu…eh, cari buku maksudnya.
“Oh yawes, aku ikut deh mau tidur haha, males pulang jam segini” kataku yang memang cukup mengantuk setelah matkul MPKT-A. “Pada mau ikut gak nih, ke perpusat?”
“Ayok!” jawab Erlangga semangat.
“Eh makan dulu yuuuk, laper nih,” ajak Sifa.
“Kancil aja yuk, pengen steak, atau Takor” ajak Febi pada kami. Kancil itu Kantin Psikologi, deket banget dari FISIP dan makanannya bervariasi banget. Dari Soto Betawi sampai pasta a la Itali pun ada. Takor itu kantin FISIP, kami anak-anak FISIP tapi jarang makan di sini haha.
“Enggak Fasilkom aja? Lebih enak tempatnya, bersih dan searah perpusat kaan,” Tania menawarkan gaya mbak-mbak sales *damai Tan ^^”

Dengan perdebatan serius antara Kancil, kantin Fasilkom, dan Takor, akhirnya kami tetap pada pilihan pertama yaitu Kancil.
Ribet amat mau makan aja, tapi yaa ini asiknya hehe.

Setelah makan, aku, Tania, dan Erlangga ke perpusat. Febi dan Sifa langsung balik ke FISIP karena lebih ingin ‘nongkrong’ di Miriam Budiarjo Resource Center, perpusnya FISIP, sebut aja MBRC.

Aku, Tania, Erlangga menuju silent room lantai 2 perpusat. Setelah menempati 3 bangku, Tania langsung berjalan ke ruang buku, Erlangga membuka laptop dan WiFi-an, aku? Tidur~



Untungnya di lantai 1 perpusat ada musholla, jadi kami lebih mudah kalau mau sholat.

Pukul 15.30, kami bertiga memutuskan untuk balik. Aku dan Erlangga ke asrama, Tania ke kost-nya di Kober. Setelah menunggu sekitar 10 menit di halte bikun depan Masjid Ukhuwah Islamiyah (UI), akhirnya bikun datang. Tania turun terlebih dahulu di halte stasiun UI. Dari sana dia jalan hingga ke luar kawasan UI, menyeberang jalan utama Depok (Jalan Margonda), lalu masuk ke gang Kober. Aku dan Erlangga melanjutkan perjalanan ke asrama.

Sampai di asrama kami berpisah ke kamar masing-masing.
Dengan pandangan nanar dan penuh rasa malas, aku memandang tangga gedung asramaku dan memutuskan untuk ngerusuhin hidupnya Saras dulu aja. Jalanlah aku ke kamar Saras yang ada di lantai 1 dan ‘ngadem’ di situ. Hahaha. Semangat ya Ras karena temanmu yang satu ini selalu ngetem di kamarmu dulu xD

Setelah istirahat, tidur-tiduran, dan mandi, akhirnya aku balik ke kamarku tercinta di lantai 3 gedung sebelah.
Malam itu aku gunakan untuk belajar Sosiologi bareng Saras di kamarnya karena esok paginya kami ada tes kecil. Sampai sekitar pukul 23.00 kami belajar.
Selesai belajar, aku balik ke kamar lagi. Doakan untuk tes kecil kami besok ya!

-------------------------||||||-------------------------

Itu tadi sedikit gambaran hari-hariku sebagai mahasiswi FISIP UI. Merantau itu asik, jadi mahasiswa juga asik, apalagi mahasiswa UI. *wink*