Warmest regards

August 6, 2018

Kebodohan yang Menyadarkan

Beberapa waktu lalu aku sempat dirundung kecewa. Salahku sendiri, sih, yang memasang ekspektasi terlalu tinggi. Ceritanya, aku kira aku akan dapat tambahan penghasilan yang lumayan, ternyata yang aku dapat tidak seberapa. Padahal aku merasa pantas dapat lebih.

Lalu aku sadar.
Kecewa?
Memangnya shalat dhuha-nya sudah sekonsisten apa, sampai berani kecewa dengan penghasilan yang didapat? Konsisten? Boro-boro. Sebulan sekali saja sudah alhamdulillah.
Malu sama matahari pagi yang hampir tidak pernah kamu sapa dengan dhuha, Cha.

Penghasilan tambahan tidak seberapa?
Memangnya berapa sih yang 'seberapa'? Bisa jamin jika hasilnya sesuai ekspektasi, lalu kamu bakal bahagia?
Yang 'tidak seberapa' itu bisa sangat berarti untuk banyak orang lain, Cha.

Pantas dapat lebih?
Memangnya kamu tidak memikirkan berapa banyak ekspektasi orang terhadapmu yang tidak terkabul juga?
Ini berarti kamu punya target lebih untuk dicapai lagi, Cha.



Hampir. Hampir aku tersesat di kekecewaan, kebodohan, yang sebetulnya aku ciptakan sendiri.

July 25, 2018

It ain't a Competition, Darling

After some reflection, I realize that the one thing I've done, most of the time, that can keep me sane in this harsh life called 'Jakarta', is that I don't take this life as a competition.

Yep. Begitulah kira-kira 1 kalimat yang bisa merangkum + 5 tahunku di kota orang ini. Kota yang katanya keras, tapi sebetulnya ngangenin juga di sisi lain. Bohong kalau aku bilang Jakarta adalah Hobbiton, di mana para Hobbit hidup bahagia berdampingan. Jakarta lebih mirip seperti Glade, area di film Maze Runner, beserta labirin yang mengelilinginya. Dan dengan tidak menganggap hidup yang aku jalanin ini sebagai sebuah kompetisi, Jakarta tetap menjadi Glade, bukan Capitol di film Hunger Games.

May 4, 2018

Siap jadi 'Mahmud' dengan Popmama.com

​Tepat dua hari yang lalu, sahabatku sejak awal kuliah memberitahuku rencana bahwa dia akan segera dilamar oleh pacarnya. Kaget? Banget! Bukan... Bukan kaget karena pacarnya ternyata berani melamarnya. Aku kaget karena, wow this is the real adult and I am an adult too!

Yes. Ternyata tahun ini adalah tahun ketigaku di usia kepala dua. Mungkin banget kalau dalam satu atau dua tahun kedepan, aku juga menyusul sahabatku itu untuk dilamar juga. Kemudian menikah. Kemudian punya anak. Kemudian jadi ibu. Jika Tuhan mengizinkan, mungkin semua tahap itu terjadi dalam waktu kurang dari 5 tahun kedepan. Bisa jadi, kan?

April 22, 2018

Setengah Bulan Kalah, Kalian Jangan, Biar Aku Saja


Tepatnya lima belas hari aku dibuatNya kalah, tidak berdaya apa-apa hingga hanya sanggup berdiam diri di rumah (+ rumah sakit). Tanggal 7 April malam aku memang berencana pulang langsung dari berolahraga menuju ke rumah Irfan karena esok paginya kami akan berangkat bersama ke olahraga yang sama. Malam itu sepulang dari berolahraga, wasirku kambuh cukup parah sampai-sampai rasanya berdiri salah duduk salah semua serba salah.

April 6, 2018

Bahagia Seharusnya Gratis



Berkantor di bilangan Thamrin, Jakarta Pusat, membuatku sesekali 'mampir' ke dua mall tersohor di Jakarta: Grand Indonesia & Plaza Indonesia. 'Mampir' ke lorong-lorongnya untuk sekadar cuci mata atau kalau kantong lagi sehat yaa...beli satu atau dua barang. Oh dan tentunya sesekali makan siang di sana. Di kantin karyawannya tentu saja.

Saat berjalan masuk ke Plaza Indonesia lah aku melihat inspirasi dari tulisan ini. Aku bersama beberapa teman kantor sedang berjalan di depan lobby selatan untuk kemudian menuju Kantin Subsidi PI di lantai basement. Beberapa dari kalian mungkin familiar dengan pemandangan jajaran mobil mewah yang terparkir indah tak jauh dari bibir lobby. Di situ letak tempat parkir VIP yang dengar-dengar tarifnya mencapai Rp200.000 p e r j a m. Lalu di lobby selalu ada mobil mewah yang datang dan pergi untuk menurunkan penumpangnya. Selalu mewah. Percayalah.