Warmest regards

November 21, 2014

Green Campus FISIP UI, Perlahan tetapi Pasti

Green Campus.

Pagi itu saya baru tiba di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UI. Disambut dengan banyak pohon yang berdiri di sepanjang jalan, saya berjalan masuk menuju gedung H. Tepat setelah turun dari bis kuning, ada sebuah spanduk yang turut menyambut saya yang bertuliskan, “Kawasan Tanpa Rokok”. Kembali berjalan ke gedung H, terlihat ada yang berbeda di beberapa sudut bangunan yang saya lewati. Ada beberapa pasang tempat sampah pilah yang terlihat kebaruannya dengan warna kuning dan hijau yang cukup terang. Ada tulisan “Organik” dan “Anorganik” di tiap-tiapnya.

Spanduk serta tempat-tempat sampah pilah tersebut adalah sebagian dari program gerakan Green Campus FISIP UI. Gerakan ini bertujuan untuk menciptakan masyarakat FISIP UI yang peduli terhadap lingkungan berkelanjutan. Pertanyaannya adalah, seberapa tinggikah kesadaran masyarakat FISIP UI untuk menjaga lingkungan?

November 19, 2014

Keluarga Baru, Panitia ISLC III

Aku menemukan keluarga baru.

-----------------------------
Siang itu seusai kelas, aku menemui Tania dan menemaninya mencari seseorang. Rupanya orang yang ia cari adalah Ahmad. Lagi-lagi Tania membutuhkan tanda tangan Ahmad untuk entah-surat-surat-apa-itu. Kali itu sudah kali ketiga aku menemani Tania mencari Ahmad untuk urusan yang sama.
Ketika bertemu Ahmad, tiba-tiba dia mengajakku untuk 'bergabung' di acaranya,
"Sekalian gabung aja, jadi administrasi kayak Tania,"
Hahaha, kujawab saja dengan tertawa kecil karena hanya kuanggap candaan.
Rupanya ajakan siang itu betul-betul betulan. Itulah mulanya kudapat keluarga baru ini.....



Indonesia Student Leadership Camp III ( @ISLC_UI ). Adalah acara yang berada di bawah ILead-UI yang panitianya terdiri dari mahasiswa/i se-UI. Ini kali pertamaku mengikuti kepanitiaan tingkat UI. Hmm, awalnya aku cukup ragu sih, karena mungkin saja aku tidak cocok dengan anak jurusan lain, bahkan fakultas lain, bahkan rumpun ilmu lain. Tapi pada akhirnya kuterima ajakan ini dan jadilah aku salah satu panitia ISLC III. Dan saat itu entah kebetulan atau apa, Tania jatuh sakit dan harus bed rest selama satu minggu. Seluruh tugas-tugasnya pun sementara dilimpahkan ke aku.
Satu hal yang makin memantapkanku bergabung di ISLC III adalah ternyata Lita, salah satu teman dekatku, juga salah satu panitia di sana. Makin mantaplah aku.

Tidak lama pleno diadakan. Yap, pleno pertamaku bersama kepanitiaan ini. Sambutan panitia dari fakultas lain cukup hangat dan aku mulai berkenalan dengan mereka satu persatu. Pleno kedua, ketiga, dan aku mulai menyenangi kepanitiaan ini. Haha.

Sampai tibalah hari pelaksanaan acara. Acara ISLC III ini diselenggarakan selama satu minggu. Selama satu minggu itu pula panitia menyewa beberapa kamar di Wisma Makara UI untuk dijadikan kantor(markas). Selama satu minggu aku dan banyak panitia lain menginap di Wisma Makara UI. Bisa dibilang, para panitia ini bonding-by-doing. Karena hingga H-1 acara, panitia tidak sering bertemu dan belum terlalu akrab.
Seiring berjalannya acara dari hari pertama, kedua, ketiga, aku merasa semakin terikat dengan kekeluargaan yang ditawarkan seluruh panitia. Kami mulai tahu kekurangan, keokean, kesuperan, kecerdasan, kemageran masing-masing. Tidur dengan laptop menyala, berkumpul 15 orang di satu kamar, saling antar-jemput(ehem) satu sama lain, saling bully satu sama lain, jadi hal yang biasa selama satu minggu itu.

Duh aku jadi sedih.

Dan sekarang ISLC III sudah selesai. Para panitia sudah kembali ke aktivitas masing-masing. Kami jarang bertemu. Apalagi yang berada di fakultas yang berbeda...... Eits, tapi grup whatsapp kami (hingga hari ini) tidak sepi-sepi juga. Bahagia. Membuka grup whatsapp panitia ISLC selalu mengundang tawa. Apalagi jika Adam sudah muncul dengan pak bikunnya, Kevin dengan modus-modus jitunya, dan Faqih dengan Me**ynya #ups.

Setelah kuanalisis(apaan), ada beberapa faktor yang membuat kepanitiaan ini 'mengena' di hati:
1. Ada teman-teman terdekatku di sini: Tania dan Lita.
2. No Danusan. Yeah! ISLC III bekerja sama dengan Bank Jawa Barat yang sekaligus menjadi sponsor utama ISLC III sehingga kami sebagai panitia amat sangat terbantu dan tidak perlu bersusah payah danus-ing. Terima kasih BJB, muah ^,^
3. Panitia yang bercampur dari beberapa fakultas. Hal ini membuat, entahlah, setiap orang jadi harus sok kenal dan sok asik in a positive way. Hehe.
4. Hari-H satu minggu penuh dan panitia berkumpul di satu markas yang sama. Can you imagine? The first people and the last one are them.

Hmm.....
Terima kasih untuk Tania, Ahmad, Mujab yang pertama kali merekrut aku di ISLC III.
Terima kasih Lita udah jadi koordinator yang sangat bertanggung jawab dan super dan nobody compares dan dahsyat dan segalanya.
Terima kasih semua panitia atas keceriaan, kebegoan, profesionalitas, dan canda-tawa, dan suka-duka, dan segalanya. Selamat kembali kuliah.
Terima kasih seluruh peserta ISLC III yang membuatku optimis Indonesia akan dipimpin orang-orang hebat seperti kalian di masa depan. InsyaAllah, aamiin.
Terima kasih seluruh pihak yang sudah membantu terselenggaranya ISLC III.
Terakhir, terima kasih kamu.



(hueeek Kamu siapa coooong cong -_-)
“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)
Ayo saling tebarkan keharuman kita, hari ini, esok, seterusnya, Kawan. :)

By the way, foto menyusul ;)

November 3, 2014

Produktif mumpung Masih Usia Produktif

Tadi pagi di kelas Pengantar Jurnalisme, Mas Hasyim, dosenku--well yes dosen-dosen di FISIP UI semua dipanggil Mas/Mbak no matter how old they are--sempat melontarkan sebuah pertanyaan,
"Di Indonesia usia produktif itu berapa?"
Mayoritas kelas menjawab 15 sampai 64 tahun, dan memang benar itu jawabannya, setidaknya menurut Data Statistik Indonesia.
Dari situ pikiranku seakan tertohok. Wey... Usiaku 19 tahun yang berarti aku sudah sangat memasuki usia produktif Negara Kesatuan Republik Indonesia. Produktif. PRODUKTIF. P R O D U K T I F .
.
.
.
.
.
PRODUKTIF.
.
Sudah produktif kah kamu, Sarah Mustika Putri Adhitya?
.
.
.
Well, pasti ada alasan mengapa usia tersebut dikatakan Produktif, bukan Konsumtif atau Distributif. Negara ini mengharapkan para penduduk dengan rentang usia tersebut untuk 'beraksi', 'melakukan sesuatu', lebih-lebih 'mengHASILkan sesuatu'.

Usia kamu berapa? 19? 20? 25? Kepala tiga? Atau lebih? Renungkan deh, di rentang usia produktif ini, seberapa produktifkah kamu? Atau ironisnya, seberapa konsumtifkah dirimu?

Belum terlambat untuk memulai era produktif dan meninggalkan era konsumtifmu--mungkin bukan meninggalkan, lebih tepatnya mempersiapkan. Bayangkan kamu bisa memaksimalkan usia produktifmu ini, hingga pada akhir rentang usia itu kamu punya segalanya untuk mulai jadi konsumtif.
Selama belum melewati rentang itu rasanya belum terlambat untuk jadi produktif.
pict source: pinterest.com

My Productivity Today
Sekarang aku adalah seorang mahasiswi Ilmu Komunikasi yang berharap tidak lebih dari 2,5 tahun lagi lulus.
Sekarang aku adalah seorang color guard di marching band kampus yang latihan 4 kali seminggu dan berharap jadi juara di kejuaraan akhir tahun nanti.
Sekarang aku adalah seorang anggota badan pers fakultas yang aktif mengurus persoalan media partner setidaknya hingga akhir kepengurusan Desember nanti.
Sekarang aku adalah seorang staff divisi administrasi acara kampus yang well, bisa dibilang bertaraf nasional, yang sedang hecticnya mengurus berbagai surat.

Semoga ini tidak hanya biasku tapi sepertinya aku sudah mulai produktif. Tapi ini masih dangkal. Aku ingin produktif, tak hanya untuk diri sendiri, tapi juga orang-orang yang ku sayangi, lebih-lebih untuk masyarakat banyak. Aamiin.
"Twenty years from now you will be more disappointed by things you didn't do than by things you did do, so throw off the bowlines, sail away from safe harbor, catch the trade winds in your sails. Explore, Dreams, Discover."----Mark Twain 
Be productive, productive people!!

October 26, 2014

We ain't Children No More

Percakapan dengan Erlangga, salah satu teman jurusanku dan kami sama-sama di asrama UI:
*makan di kantin asrama*
*doi ngomongin boyband Korea yang baru keluar*
Er: Umurnya sama kayak kita lho, Cha! Muda banget kaaan.
Ac: Wah, iya ya muda bangeeet......... Eh, ya enggak muda juga Er, 19 tahun kan.
Er: Iyasiiih........
Ac: Umur-umur sekita tuh umur-umur artis yak hahaha.
Er: Iya Cha, tapi aku kok masih ngerasa kecil ya. Masih anak kecil gitu.
Ac: Sama banget Er!!!
Er: Harusnya umur segini kita udah mikir panjang-panjang gitu.
Ac: Iyaaaaa..... Kitanya masih ngerasa kecil-kecil aja, padahal bentar lagi..... (nikah, tapi gak kusebutkan wkwk)
Yah begitulah.
Usiaku 19 tahun yang berarti bahwa tahun depan aku tepat dua puluh kali mengelilingi matahari. Usia yang cukup untuk berpikir jauh ke depan. Usia yang cukup untuk...well, merencanakan 'hidup'. Usia yang cukup untuk tidak hanya berandai-andai tentang masa depan, tetapi juga mencari jalan untuk mewujudkan.

Bahkan sekarang gue belom nentuin mau masuk peminatan apaaaa

Kalau soal pekerjaan, aku punya beberapa keinginan, atau alternatif, atau kemungkinan. Intinya aku sudah punya bayangan untuk ini.
Setelah beberapa lama kerja, perempuan inginnya nikah lah yaa. Soal pendamping hidup, bukan prioritas saat ini. Kita lihat saja. Yang pasti aku harus punya pendamping saat wisuda. That's target. --wakakakak--
Setelah menikah, perempuan akan sejati setelah memiliki anak. Well at least that's in my opinion. Ingin punya anak berapa? Laki-laki atau perempuan? Ini kita-lihat-saja lainnya.

Slowly but sure, I'm on my way to reach my dream.
And we, all of us, have to accept the reality that,



WE AIN'T CHILDREN NO MORE

October 7, 2014

Hobiku: Jilbab Tak Kuno Lagi

Hai hai!
Aku punya sebuah kebiasaan, emm, nope, let's say.... Hobi! Hobi yang aku bahkan tak sadar sejak kapan jadi hobi. Yang pasti aku suka banget melakukannya: mengobservasi gaya berpakaian orang. Well, yes, aku suka memperhatikan busana yang dipakai orang--terutama cewek. Dari atas sampai bawah... not in annoying way ya tapi. Bagaimana orang itu mengombinasikan warna, motif, tone, dan lainnya. Bahkan kadang aku sampai memikirkan kira-kira apa alasan orang itu beli pakaian itu. Kadang nemu orang dengan gaya yang manis dan serasi, tapi tak jarang juga nemu berbagai fashion disaster yang bikin orang lain mengelus dada.


g a k  m a t c h i n g :(((
source: dskon.com
Yang lebih seru lagi adalah mengobservasi gaya berbagai mbak-mbak hijabers. Yah seperti yang bisa kita lihat dan rasakan, berjilbab tak lagi identik dengan kesuraman, kekunoan, dan kekakuan. Berbalik 180 derajat, berjilbab justru memberikan kesempatan cewek-cewek untuk bereksplorasi bahkan berkreasi. Aku sih selama tren ini masih dalam koridor yang benar, setuju-setuju aja.

Perubahan Tren Busana Muslim
Berjilbab itu repot, gerah, kuno, gak bergaya. Yes.... dulu. Dulu sebelum negara api menyerang. Berjilbab semata-mata dilihat sebagai kewajiban yang 'menyusahkan'(?). Kalau dibilang kuno sih..... well, bisa jadi karena beberapa tahun yang lalu, fesyen hijab belum berkembang, belum bervariasi. Katakanlah kerudung yang populer hanya kerudung 'langsung' dan paris segi-4 saja. Jilbab cuma akan bervariasi di seremoni seperti kawinan atau wisuda kelulusan. Untuk pakaian paling-paling dress panjang atau gamis. Kesannya berjilbab membuatmu mati gaya.
Tapi sekarang tidak lagi!
source: http://www.zalora.co.id/jenahara-for-zalora/
Setelah negara api menyerang, tren busana muslim berkembang sangat cepat beberapa tahun terakhir. Hilang sudah stereotip-stereotip negatif tentang berjilbab. Repot? Berbagai model busana bisa dipilih sesuai kebutuhan. Formal maupun informal, semua ada pilihannya. Gerah? Nope. Bahan busana yang kita inginkan pun variatif dari katun hingga sutera. Kuno? Big no no. Wanita semakin punya banyak kesempatan untuk berkreasi dengan kombinasi gamis/dress, dengan kerudung paris/pashmina, ditambah rok/trousers, plus sandal kasual/wedges cantik.


source: http://www.zalora.co.id/jenahara-for-zalora/
Tidak hanya sampai di situ. Banyaknya selebriti Indonesia yang memutuskan untuk berjilbab serta munculnya fashion-blogger hijab pun semakin menambah referensi fesyen wanita Indonesia, sebut saja Zaskia Adya Mecca, Dian Pelangi, Shireen Sungkar, Fatin Shidqia, dan yang menurutku paling oke, Dewi Sandra.
Bersama munculnya tren ini, fesyen hijab pun merambah ke online shop juga. Semerambah itu. Ibaratnya lo bukan pengguna socmed kalau belum pernah ditawari gamis olshop di FB atau BBM. Hahaha. Bahkan nih, situs belanja online besar seperti ZALORA pun sekarang menyediakan brand khusus busana muslim >> Jenahara for ZALORA

Lihat kan betapa okenya dan dinamisnya tren fesyen di Indonesia. Tak salah dong aku punya hobi macam itu: mengobservasi gaya berbusana orang. Hahaha. Coba deh kalian lakukan, seru!